25/12/13

Gerombolan Haring

Segerombol haring lewat di depanku, gerombolan bau amis. Sayangnya air laut ini menihilkan indera penciuman. Mulutnya megap-megap. Mata mereka melihat kearahku. Namun aku tidak lantas canggung, toh mata ikan adalah mata dua dimensi. 

Segerombol haring lewat di depanku, gerombolan bau amis. Beramai-ramai membentuk barisan yang menandingi hiu. Ada pepatah diantara mereka, apabila ramai maka kita akan menciptakan dominasi baru. Kita jaksanya, kita hakimnya.

Namun lihatlah siapa sang komandan. Ia bukan salah satu dari para haring. Ia utusanku. Umpan kail bernama jig dan popper.

09/09/13

Sang Dewa

Suatu ketika pada zaman yang tidak dicatat dalam sejarah, di sebuah lintang dan sebuah bujur, tersebutlah dua buah pulau. Sebuah selat yang luas membelah di tengahnya. 

Pulau pertama sangat asri. Berbagai macam ekosistem ada disitu. Apabila dijumlahkan, dari semua ekosistem ada lebih dari satu juta spesies yang tidak ada di belahan dunia lainnya. Dan alhamdulilah, terdapat pengertian antar spesies satu sama lain. Rantai makanan berjalan dengan lancar karena masing-masing spesies menjatahkan beberapa anggota dari mereka untuk diikhlaskan ke badan pangan pulau pertama yang, akan membagi pangan-pangan itu ke spesies lain sama rata sama adil, sehingga selama puluhan tahun, perang antar spesies tidak pernah terjadi di pulau itu. Kedengaranya ironis, namun setidaknya probabilitas akan tragedi telah dinihilkan. 

Diantara para spesies itu memiliki seseorang yang diagungkan untuk memegang kendali atas semua spesies. Seseorang yang mengatur pembagian pangan. Seseorang yang menyusun hukum-hukum pulau. Seseorang yang menentukan nilai mata uang pulau. Seseorang yang memimpin ritual-ritual pulau. Seseorang yang menata habitat-habitat layak huni. Seseorang yang mengatur porsi kerja masing-masing spesies. Seseorang yang dapat meredam friksi-friksi. Seseorang yang menganyomi semuanya. Dan semuanya dilakukan hanya oleh seseorang. Seseorang yang dijuluki Dewa oleh penghuni pulau itu.

Karena itu pula, karena sifat terbatasnya jumlah dewa tersebut, dibuatlah monumen-monumen, arca-arca, gambar-gambar sebagai perwakilan sang Dewa di segala penjuru mata angin. Para spesies memandikannya satu kali seminggu, hari yang disebut hari mandi raya, dengan saripati buah belimbing dan bulir cengkeh. Harumnya semerbak dan bertahan hingga minggu berikutnya. Sehingga ketika ada yang mencium bau itu maka ia harus menjaga sopan santunnya karena ia sedang berada di teritorial sang Dewa.

Dilain sisi Pulau Kedua adalah pulau yang sangat progresif. Kemajuan-kemajuan telah banyak dicapai. Pembangunan-pembangunan baru terus bertumbuhan. Pulau Kedua merupakan pusat perkembangan ekonomi utama oleh karena itu tidak heran sistem-sistemnya merupakan panutan negara-negara seluruh dunia.

Lansekap Pulau Kedua ditumbuhi beton-beton. Gedung-gedung berlomba siapa yang lebih tinggi. Kalsium yang diasupkan bukanlah kalsium biasa melainkan kalsium beton. Orang-orang Pulau Kedua memakai pakaian yang bertekstil kapas, berkancing mika, bersabuk kulit dan bergelimangan batu alam di aksesorisnya. Seolah seluruh alam semesta dipindahkan ke badan mereka.

Di pulau ini semua keinginan yang didamba-dambakan oleh kekhawatiran masa lalu telah dikabulkan. Dikabulkan oleh daya masing-masing. Hampir semua pertanyaan yang ditanyakan dahulu bisa dijawab. Sisa-sisa pertanyaan yang belum dijawab dibiarkan begitu saja agar mereka tidak akan kehabisan alasan untuk menjawab. Dan diantara itu, muncullah pertanyaan-pertanyaan baru. Dan Pulau Pertama adalah salah satu pertanyaan baru itu.

Sampai pada suatu saat Pemerintah Dunia menggagas untuk meningkatkan infrastruktur dengan membangun jembatan penghubung lintas selat, yang akan menghubungkan Pulau Pertama dan Pulau Kedua. Jembatan itu diperkirakan akan rampung dalam jangka waktu satu tahun.

Lalu dalam selang satu tahun itu tercipta ramalan-ramalan diantara kedua penduduk pulau.

Ramalan akan kebaruan impuls-impuls
ramalan akan sari-sari pemberontakan
dan ramalan yang akhirnya menjadi nyata

Kemudian setelah diresmikan oleh Presiden Dunia, berderet-deret antrian yang tak kunjung ada ujungnya mulai membentuk pola. Orang-orang tampak seperti lipan raksasa yang melintas dengan padat merayap. Berbagai tujuan disuguhkan di benak-benak mereka, apapun tujuan itu pastinya akan perlahan memberitahu mereka sebuah cerita baru. Dan mereka akan dengan girang menunggu untuk mendengarnya, persis seperti anak kecil yang dioleh-olehi jajanan pasar yang dibawa orangtua mereka sehabis pulang kerja.

Pulau Pertama adalah tempat yang dirindukan orang-orang Pulau Kedua.
Pulau Kedua adalah tempat yang diangankan penduduk Pulau Pertama.

Penelitian-penelitian baru digagaskan oleh penduduk Pulau Kedua. Spesies-spesies Pulau Pertama yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh bagian dunia manapun menjadi pemeran utamanya. Mereka merupakan bagian dari jurai-jurai misteri besar jagat raya. Yang sekarang bakal menelanjangi apa yang dulu dianggap sebagai keajaiban menjadi tak lebih dari sekedar trik sihir yang sudah usang.

Kehidupan di Pulau Pertama berjalan lebih baik bagi penghuninya. Sekarang, spesies-spesies itu tidak perlu memberikan korban dari anggotanya, karena para penduduk Pulau Kedua memberikan makanan olahan khusus untuk menjaga kelangsungan hidup para spesies tersebut. Sekarang, spesies-spesies itu tidak perlu lagi menyembah karena sekarang merekalah yang disembah. Kebuasan mereka berganti dengan kejinakan setelah mereka akhirnya tahu artinya hidup tanpa susah. Dan bukan hanya sekedar hidup saja melainkan hidup berbahagia.

Bahagia yang tidak memerlukan badan pangan, aturan-aturan lama, mata uang lama dan ritual-ritual lama.

Bahagia yang tidak memerlukan sang Dewa.

Bertahun-tahun kemudian, tidak ditemukan jejak-jejak sang Dewa di Pulau Pertama lagi. Ia tidak ada lagi dimana-mana. Monumen-monumen, arca-arca, gambar-gambarnya sudah digantikan dengan laboratorium-laboratorium dan pos-pos bertingkat.

Lalu kemanakah ia?

Di Pulau Kedua terlihat sebuah gambar yang menunjukkan rupanya.

Pada sebuah gedung di jalan utama, diantara kubikel, di sebuah dinding, dibingkai dengan kayu mahoni dan kaca patri, ada gambar sang Dewa disitu.

Tepat di bawahnya tertulis "Karyawan Terbaik Bulan Ini".


27/07/13

Hiss

"Mereka bukan seperti kita, mereka ular". 

"Tidak bertutur kata, tapi mendesis".

Tapi ia tidak bergeming. Minggu ini sudah kali ke sembilan ia tetap di kumpulan ular-ular itu. Baru saja Bisa itu dikeluarkan dan dijahit lukanya, ia sudah tidak perduli lagi. Sering sekali Bisa itu masuk ke badannya, di berbagai bagian tubuh, sampai-sampai organ-organ di dalamnya sudah bega dan bosan hingga sekarang sudah kebal. Bahkan ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri tanpa perlu memanggil suster mariam. Yah walaupun di sisi lain suster mariam menjadi pengangguran tapi bagaimana bisa aku tidak kagum?

Ia lalu mengambil pajangan tanduk rusa dari dinding warisan kakeknya lalu memainkannya di depan muka ular-ular itu. Seperti diharapkannya kepala mereka mengikuti. Dan aku bertaruh mereka pasti bingung. Tentu saja bingung. Walaupun tanduk itu diputar satu arah, cabangnya tetap banyak. Ular-ular itu mencoba menggigit, tapi tidak kena. Mencoba menggigit, tapi tidak kena. Mencoba menggigit, kali ini kena, namun lalu mereka keracunan. Trik pintar darinya.

Sekarang ia sudah menjadi pawang ular. Ular-ular itu ketika berada di dekatnya tidak menggigit lagi karena mereka takut digigit kembali. Hebat sekali. Namanya bahkan sudah menjadi terkenal di kalangan kerajaan. Ke seberang samudra, ke telinga Iskandar Muda. 

Namun dari hari ke hari, aku makin melihat ada yang aneh darinya. Matanya meruncing, hidungnya memesek, taringnya memanjang, kulitnya bersisik. 

Ketika kuajak ia bertutur kata, ia hanya mendesis.